Sistemik Versi BPK atau BI yang Benar?

Berikut adalah diskusi dan debat tentang
ambiguitas definisi resiko sistemik antara yang
BI dan BPK. Di alamat aslinya terdapat 93
komentar yang cukup panjang dan beragam dari berbagai pihak (termasuk saya).

Kontroversi Audit Century

DUA VERSI, SATU ACUAN

Meski sama-sama mengacu pada MoU Uni Eropa, BPK
dan BI punya interpretasi berbeda soal analisis sistemik.

* * *

PEJABAT Sementara Gubernur Bank Indonesia Darmin
Nasution agak terbata-bata. Diurainya kata demi
kata secuplik isi siaran pers yang dibacakannya
saat menggelar konferensi pers bersama Menteri
Keuangan Sri Mulyani Indrawati di gedung
Departemen Keuangan pada 24 November lalu.

Kata-katanya tak lancar lantaran ia berbaik hati
menyulihbahasan isi kutipan Nota Kesepahaman
(MoU) Uni Eropa yang menjadi acuan bank sentral
dalam melakukan analisis dampak sistemik Bank
Century. “Saya terjemahkan saja ya,” ujarnya kepada para wartawan.

Darmin rupanya ingin agar pemahaman wartawan atas
isi Nota itu tak meleset. Maklum, dalam laporan
hasil audit investigasi Badan Pemeriksa Keuangan
disebutkan bahwa institusinya telah melanggar isi nota itu.

BPK menyimpulkan tak ada kriteria terukur dalam
penetapan dampak sistemik yang membuat Bank
Century harus diselamatkan oleh Komite Stabilitas
Sistem Keuangan, yang beranggotakan Gubernur BI dan Menteri Keuangan.

Analisis BI pun diragukan, karena tidak
digunakannya indikator kuantitatif dalam mengukur
dampak sistemik, selain pada analisis terhadap
institusi keuangan. Akibatnya, keputusan
penyelamatan Century pada 20 November 2008 yang
menelan dana hingga Rp 6,7 triliun lebih
didasarkan pada pertimbangan psikologi pasar.

Kesimpulan akhir BPK itu dibuat dengan mengacu
pada isi MoU Uni Eropa atau Memorandum of
Understanding on Cooperation between The Finacial
Supervisory Authorities: On Cross-Border Financial Stability (1 Juni 2008).

Dalam MoU tersebut disepakati ada empat aspek
sebagai dasar penentuan dampak sistemik, yaitu
aspek institusi keuangan, pasar keuangan, sistem
pembayaran dan sektor riil. Keempat-empatnya
harus diukur dengan indikator kuantitatif.

Persoalannya, menurut BPK, BI hanya menggunakan
indikator kuantitatif untuk aspek institusi
keuangan. “Sedangkan untuk aspek lainnya lebih
mendasarkan pada pertimbangan kualitatif,” begitu
bunyi dokumen audit BPK setelah hampir 600
halaman itu. Akibatnya, kata BPK, “Assessment
lebih banyak didasarkan pada judgement dan mengandung sejumlah kelemahan.”

Cacat lainnya, yaitu BI dianggap tidak konsisten
dengan MoU itu karena mamasukkan aspek
pertimbangan psikologi pasar. Ini membuat BI
menyimpulkan bahwa kasus Bank Century bakal
berdampak sistemik, yang dapat memicu gangguan di
pasar keuangan dan sistem pembayaran.

Padahal, dari sisi aspek institusi keuangan dan
sektor riil, pengaruh Bank Century tidak
signifikan (low to medium impact). “Dari aspek
institusi keuangan terlihat bahwa size Century
tidak signifikan dibandingkan dengan industri
perbankan nasional,” kata BPK, “namun, KSSK lebih
memperhantikan aspek psikologi pasar.”

Berdasarkan wawancara dengan beberapa pejabat dan
staf bank sentral, BPK juga terkesan meragukan
digunakannya MoU Uni Eropa sebagai dasar
analisis. “Dalam wawancara pada 11 September
2008, HA menjelaskan metode ini masih coba-coba,”
BPK menuliskan dalam audit tersebut. Metode ini
pun baru pertama kali digunakan ketika menganalisis dampak sistemik Century.

Berbagai kesimpulan inilah yang dibantah keras
oleh Darmin dan Sri Mulyani. Dalam tanggapannya
ke BPK, BI menegaskan ditambahkannya aspek
psikologi pasar mengacu pada pengalaman krisis
1997/1998. Saat itu, penutupan 16 bank yang
pangsa pasarnya hanya 2,3 persen dari total aset
perbankan, ternyata mengakibatkan dampak berantai yang memicu krisis perbankan.

“Gangguan pada sektor keuangan dapat dengan cepat
menjalar ke berbagai sektor lainnya, sehingga
menciptakan ketidakstabilan sosial politik yang
dapat dengan cepat mengganggu psikologi pasar dan
meruntuhkan kepercayaan masyarakat,” ujar BI.

Menurut Sri, judgement juga tidak bisa
dikonotasikan negatif. Apalagi, penilaian pun
dilakukan atas dasar data-data kuantitatif. “Saya
tidak mengerti kenapa BPK menyatakan hanya
qualitative judgement,” ujarnya. “Padahal ada
sederet data kuantitatif yang digunakan.”

Darmin pun menyatakan, keputusan dibuat atas
dasar pertimbangan kualitatif dan kuantitatif.
Keduanya pun kemudian menyodorkan sederet
angka-angka sebagai indikator rawannya ekonomi
domestik saat keputusan penyelamatan Century dibuat.

Darmin justru balik mempertanyakan pemahaman BPK
soal isi MoU Uni Eropa. Ia lantas mengutip
halaman 34 MoU tersebut yang bunyi aslinya sebagai berikut:

“Prioritisation in the assessment. In the case of
a rapidly unfolding crisis, one may need to focus
the assessment on the most critical parts of the
financial system….In such a situation, one may
also need to place more reliance on qualitative
judgements rather than on up-to-date quantitative information.”

Dari kutipan MoU itu, kata Darmin, cukup jelas
bahwa penggunaan unsur penilaian kualitatif lebih
penting ketimbang informasi kuantitatif yang up
to date. “Pertimbangan yang mendasari MoU Uni
Eropa itu tentu telah didasari baik oleh hasil
kajian maupun pengalaman mereka dalam mencegah
dan menangani krisis keuangan,” ujarnya.

GRACE S GANDHI | METTA DHARMASAPUTRA

SENGKARUT ANALISIS SISTEMIK

Badan Pemeriksa Keuangan mencatat sejumlah
kelemahan dalam analisis dampak sistemik kasus
Bank Century yang dibuat oleh Bank Indonesia dan
pemerintah. Salah satunya, kesimpulan yang lebih
didasarkan pada judgement kualitatif. Sebaliknya
BI dan pemerintah menganggap, kesimpulan BPK lah
yang keliru. Alasannya, di balik keputusan itu,
terdapat sederet data kuantitatif yang dijadikan dasar pertimbangan.

Temuan BPK

– Terdapat inkonsistensi BI dalam penerapan MoU
Uni Eropa dengan penambahan aspek psikologi pasar
ketika menganalisis dampak sistemik Century.

– BI tidak menggunakan indikator kuantitatif
dalam menilai dampak di luar aspek institusi
keuangan. Penilaian lebih didasarkan pada judgment.

– Proses pembuatan analisis dampak sistemik
Century terkesan tergesa-gesa, karena hanya
dibuat dalam dua hari dengan metode yang baru
pertama kali digunakan dan belum pernah diuji coba.

– Data yang digunakan bukan data mutakhir karena per 31 Oktober 2008.

– KSSK tidak mempunyai kriteria terukur untuk
menetapkan dampak sistemik Cetnury, tapi lebih
mendasarkan keputusannya pada judgement.

– Dari aspek institusi keuangan, ukuran Century
tidak signifikan dibandingkan industri perbankan nasional.
• Dana pihak ketiga 0,68%
• Kredit 0,42%
• Aset 0,72%
– KSSK lebih memperhatikan aspek psikologi pasar
dalam menetapkan Century sebagai bank gagal berdampak sistemik.

10 Indikator Sri Mulyani

Selaku bekas Ketua Komite Stabilitas Sistem
Keuangan, Sri Mulyani baru-baru ini memaparkan 10
indikator yang menggambarkan betapa rawannya
ekonomi domestik saat keputusan penyelamatan
Century dibuat pada 20 November 2008.

1. Pasar uang dunia tertekan pasca kejatuhan
Lehman Brothers dan lembaga keuangan global lainnya

2. Pasar saham dunia guncang. Indeks saham
Jakarta merosot dari 2.830 (9 Januari 2009) menjadi 1.155 (20 November 2008)

3. Harga surat utang negara merosot ditandai
dengan meroketnya yield dari sekitar 10% menjadi
17,1% (20 November 2008). Setiap kenaikan 1%,
beban bunga SUN di APBN bertambah Rp 1,4 triliun).

4. Credit Default Swap Indonesia melesat dari 250
basis point (awal 2008) menjadi di atas 1.000 bps (November 2008).

5. Terjadi pelarian modal akibat gangguan likuiditas di pasar saham.

6. Cadangan devisa merosot 13% dari US$ 59,45
miliar (Juni 2008) menjadi US$ 51,64 miliar (Desember 2008).

7. Rupiah bergejolak dan terdepresiasi 30,9% dari
Rp 9.840 (Januari 2008) menjadi Rp 12.100 (November 2008)

8. Sistem perbankan dan keuangan domestik di
ambang batas krisis berdasarkan Banking Pressure
Index (Danareksa Research Institute) dan Financial Stability Index (BI).

9. Potensi pelarian modal lebih besar dari para
nasabah bank karena tidak ada penjaminan penuh di
Indonesia, seperti diterapkan negara-negara lain.

10. Para pemimpin dunia (G-20) mengadakan
pertemuan pada 13-15 November 2008 membahas penanganan krisis global.

5 Alat Ukur Bank Indonesia

Terdapat lima aspek yang digunakan BI untuk
menganalisis bank gagal berdampak sistemik.
Kelima aspek itu telah diterima Panitia Kerja
RUU-JPSK Komisi XI DPR (2004-2009). Berdasarkan
analisis tersebut, disimpulkan penutupan Bank
Century berpotensi menimbulkan dampak sistemik,
khususnya melalui jalur psikologi pasar, sistem pembayaran dan pasar keuangan.

1. Sistem pembayaran (dampak medium hingga tinggi)
– Pasar Uang Antar Bank tersegmentasi. Bank-bank
besar tidak mau lagi meminjamkan dana ke bank
kecil. Data sepekan terakhir sebelum 20 November
2008 menunjukkan, transaksi PUAB hanya antar
sesama bank besar, menengah, atau kecil.
– Terdapat 18 bank setara Century yang terancam
kesulitan likuiditas jika terjadi perpindahan
dana ke bank-bank besar (flight to quality).
– Jika Century ditutup, terdapat lima bank
lainnya yang bakal mengalami kesulitan
likuiditas, karena menempatkan dana di Century.
– Dana pihak ketiga pada 23 bank itu terus
merosot. Puncaknya pada September-November 2008.
– Tiga bank BUMN bahkan harus diperkuat
likuiditasnya dengan penempatan dana pemerintah Rp 15 triliun.

2. Pasar keuangan (dampak medium hingga tinggi)
– Pasar saham tertekan bahkan sempat dihentikan dua kali.
– Harga surat utang negara merosot
– Premi risiko atau Credit Default Swap (CDS)
Indonesia melonjak dari 350 basis point menjadi
lebih dari 1.200 bps dalam kurun kurang dari satu
bulan pada Oktober 2008 (bandingkan dengan CDS
pada November 2009 yang di bawah 200 bps).

3. Psikologi pasar (dampak medium hingga tinggi)
– Jika muncul rumor negatif atas 23 bank
tersebut, akan memicu kepanikan dan menimbulkan
penarikan dana besar-besaran (bank run).
– Dalam kondisi krisis, penutupan Century
berpotensi menimbulkan contagion effect yaitu
menularnya ketakutan ke nasabah bank-bank kecil
lain, yang saat itu juga kesulitan likuiditas,
sehingga menarik dana besar-besaran.

4. Lembaga keuangan (dampak rendah hingga medium)
– Peran Century dari sisi pangsa pasarnya tidak
signifikan. Namun, nasabahnya cukup besar
(65.000) dengan jaringan cukup luas (30 kantor
cabang, 35 kantor cabang pembantu).
– Dalam kondisi bukan krisis, penutupan bank ini tidak akan berdampak sistemik

5. Sektor riil (dampak rendah)
– Peran Century dalam pemberian kredit ke sektor riil tidak signifikan

Sumber: Departemen Keuangan, Bank Indonesia, Laporan Audit BPK

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s